Showing posts with label arsitektur. Show all posts
Showing posts with label arsitektur. Show all posts

HUNIAN VERTIKAL, Untuk siapa ?

sumber gambar : mumbailive.com
secara fundamental, pembangunan hunian vertikal pada kawasan perkotaan adalah suatu bentuk penataan ruang utnuk menghasilkan kualitas lingkungan kota yang sehat karena hunian vertikal bersifat efisien dalam penggunaan lahannya. disamping itu hunian vertikal juga memberikan kesegaran untuk lahan terbuka hijau tetap ada karena faktor "vertikal" dri hunian vertikal tersebut. namun di sisi lain pada realita yang terjadi, hunian vertikal dalam hal ini berupa rusunawa, apartemen dan sejenisnya tidak sesuai sasaran untuk siapa hunian tersebut, entah itu faktor kesengajaan atau ketidaksengajaan, entah itu faktor "money is king" atau "humanity and social are second priority", mengapa demikian ?
.
dari perspektif ekonomi di kawasan kota besar, aktivitas ekonomi pendukung dan penggeraknya berasal dari berbagai strata sosial dan ekonomi yang beragam, strata sosial yang turut berpengaruh yaitu dari strata menengah ke bawah, terus kaitannya dengan hunian vertikal ? pelaku penggerak ekomoni perkotaan (masyarakat kota) yang menjadi faktor pendukung pertputaran aktivitas ekonomi harus mendapat dukungan dan apresiasi atas keberlangsungan perputaran ekonomi perkotaan tersebut melalui hunian vertikal yang diperuntukkkan untuk masyarakat tersebut, DENGAN CATATAN bahwa pembangunan hunian vertikal harus tepat sasaran dan berpihak kepada yang membutuhkan  (masyarakat kota penggerak ekonomi kota).
.
logikanya, "pembangunan kawasan kota adalah untuk kebahagiaan masyarakat kota", jika ada pembangunan (entah itu hunian vertikal atau sebut saja apartemen atau rusunawa/rusun sebagai contoh kasus) yang intens dan berskala besar tetapi masih ada masyarakatnya yang butuh dan berhak mendapat hunian layak bahkan dalam beberapa kawasan masih ada yang tinggal dalam rumah tidak layak huni, maka berdosalah (wallahu a'lam) mereka yang berwenang/berkewajiban untuk memanusiakan manusia dalam kasus ini MASYARAKAT MENENGAH yang juga berperan sebagai PENGGERAK EKONOMI KOTA.
.
Sebagai kesimpulan, dengan melihat kondisi ketersediaan lahan di kota makassar yang sudah mendekati kata "tidak tersedia" maka perlu adanya hunian vertikal sebagai solusi untuk menjawab problem tersebut, AKAN TETAPI yang perlu menjadi catatan yaitu sasaran penghuni hunian tersebut harus ditujukan kepada mereka yang berhak.
.
"KOTA YANG HEBAT TIDAK DILIHAT DARI SEBERAPA BANYAK DAN MEGAH BANGUNANNYA, AKAN TETAPI DILIHAT DARI SEBERAPA LEBAR TAWA DAN SENYUM MASYARAKAT KOTA"
\adiguna kurnia

SEPUTAR ARSITEKTUR




Mungkin masih banyak yang bingung tentang apa itu arsitektur ? apa yang dilakukan seorang arsitek ? atau apa hubungan arsitek dan arsitektur ? atau bahkan belum ada yang bisa membedakan antara arsitek dan arsitektur, berikut ini akan saya jelaskan kepada anda seputar arsitektur,. agar tidak ada lagi kesalahpahaman, terutama bagi anda yang ,mengambil jurusan arsitektur pada saat ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. 

Apa yang arsitek lakukan ?
    Arsitek tidak hanya terlibat dalam desain sebuah bangunan. Sebagai profesional berlisensi, mereka juga bertanggung jawab atas keamanan publik dan pengawasan proyek. Peran mereka penting di setiap tahap konstruksi bangunan, mulai dari konsep awal sampai upacara pembukaan saat bangunan selesai. Di luar penyelesaian, seorang arsitek sering kali tetap terlibat dalam sebuah proyek karena bangunan berkembang untuk menggabungkan lingkungan dan gagasan baru.

Aspek pekerjaan dapat dibagi menjadi tiga peran utama atau fase - desain, dokumentasi, dan peran konstruksi.

    Dalam peran perancangan, seorang arsitek dipekerjakan oleh klien untuk menghasilkan desain terperinci dari sebuah konsep atau gagasan yang ingin dipunculkan oleh klien. Serta membutuhkan ide desain kreatif, peran ini melibatkan banyak pengetahuan teknis dan tanggung jawab. Ada kebutuhan untuk mematuhi peraturan bangunan dan keselamatan, peraturan dan batasan perencanaan daerah. Bergantung pada proyek tersebut, mungkin ada undang-undang seputar pelestarian lingkungan setempat atau bagian bangunan yang bersejarah. Rapat klien reguler penting untuk menetapkan persyaratan dan mendiskusikan proposal desain terperinci. Yang juga penting adalah memimpin tim profesional yang akan mengerjakan tahap proyek ini termasuk insinyur, perancang, dan pemodal.

    Selama tahap dokumentasi, tanggung jawabnya adalah untuk menangkap desain di atas kertas, menghasilkan gambar terperinci dan menggunakan teknologi seperti CAD untuk menguji kelayakan desain. Tahap ini dapat melibatkan revisi dan pencabutan ulang secara terus menerus untuk menggabungkan perubahan berdasarkan persyaratan, anggaran, dan peraturan klien. Setelah dokumen desain selesai, maka ada satu set dokumen kedua yang perlu diproduksi.

   Ini adalah dokumen konstruksi, yang menerjemahkan desain menjadi petunjuk dan spesifikasi teknis untuk para kontraktor dan ahli konstruksi. Begitu proyek mencapai tahap konstruksi, arsitek akan dilibatkan dalam kunjungan lapangan dan pertemuan, mengawasi konstruksi dan menandatangani beberapa pekerjaan, bernegosiasi dengan kontraktor dan menangani dan menyelesaikan masalah yang timbul.

Seperti apa tempat kerja seorang Arsitek ?
   Beragam peran berarti ada juga berbagai tempat kerja. Sebagian besar pekerjaan desain akan dilakukan dari kantor, tapi juga akan ada kunjungan ke kantor klien, pertemuan dengan kantor perencanaan dan pemerintah daerah, dan tentu saja kunjungan lapangan. Bergantung pada apakah mereka freelance atau dipekerjakan oleh perusahaan, seorang arsitek dapat bekerja dari kantor mereka sendiri, kadang-kadang dari rumah, atau dari sejumlah kantor perusahaan. Peran tersebut dapat melibatkan konferensi perjalanan, konferensi internasional, penempatan atau pertemuan.

Apa perbedaan antara seorang insinyur sipil dan arsitek ?
    Baik insinyur sipil maupun arsitek terlibat dalam perencanaan dan perancangan struktur. Namun, seorang insinyur sipil akan berkonsentrasi untuk memastikan strukturnya aman dan dapat bertahan dalam kondisi sehari-hari dan ekstrim, sementara arsitek akan fokus pada estetika pekerjaan struktural, serta berkonsentrasi pada tampilan, nuansa, dan fungsi. .

    Insinyur sipil akan menganalisis dan mengevaluasi integritas struktural dari desain yang telah dibuat oleh arsitek, dan menemukan cara untuk membuat perancangan konstruksi dimungkinkan dengan menyarankan perubahan / modifikasi untuk mengubah visi arsitek menjadi kenyataan.

    Insinyur sipil dan arsitek sering bekerja sama satu sama lain, karena pekerjaan mereka terkadang saling tumpang tindih. Hubungan kerja yang baik antara kedua profesi tersebut akan membuat pekerjaan konstruksi lebih efektif dan sukses. 

Apa perbedaan antara arsitek dan perancang arsitektur ?
   Seorang arsitek adalah seorang profesional berlisensi yang telah lulus ujian pendaftaran - ujian tujuh bagian yang sangat ketat yang dikelola oleh NCARB (Dewan Nasional Dewan Pendaftaran Arsitektur). Ujian ini untuk arsitek apa yang ujian pengacara adalah untuk pengacara.

Perancang arsitektur bukan arsitek berlisensi, dan belum lulus ujian pendaftaran.

Catatan: perancang arsitektur jangan bingung dengan arsitek desain, yang telah lulus ujian registrasi dan merupakan arsitek berlisensi, namun memilih hanya berurusan dengan aspek desain sebuah proyek, dan membiarkan arsitek lain berurusan dengan konstruksi akhir barang. .


Apakah arsitek interior seorang arsitek ?
   Singkatnya, tidak. "Arsitektur Interior (IA) sudah pasti berjalan jauh, profesi ini awalnya dikenal dengan Dekorasi Interior sebelum berkembang menjadi Desain Interior. Desain Interior profesional masih memberikan konsultasi dekorasi dan desain, namun tanggung jawab pekerjaan mereka sekarang mencakup lebih banyak 'tugas teknis' seperti sebagai gambar teknik, teknologi bangunan & servis, teknologi material & bangunan selesai, dan perincian furnitur.

    Kebutuhan untuk memahami hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur dalam Desain Interior telah melahirkan bidang Arsitektur Interior (IA). Arsitektur Interior melibatkan perencanaan dan perincian interior bangunan perumahan atau komersial. Hal ini untuk memaksimalkan efektivitas dengan menekankan pada perencanaan dan penciptaan ruang. Tidak hanya ruang yang perlu terlihat bagus, juga harus fungsional. Desain inovatif memungkinkan kita hidup dan bekerja dengan lebih nyaman, efisien, dan aman; semua dalam lingkungan yang memenuhi estetika.

    Lantas apa lulusan arsitektur interior yang tepat, begitu mereka bergabung dengan tenaga kerja? Mereka merencanakan alokasi ruang, arus lalu lintas, serta bekerja sama dengan para insinyur untuk membangun layanan, bengkel tukang kayu, dan penerangan. Ini selain pemilihan bahan, furnitur, finishing, fitting dan karya seni, untuk menciptakan ruang yang menarik dan semarak. Mereka juga dilatih untuk mempertimbangkan modifikasi struktur interior bangunan dengan bantuan insinyur, bukan hanya memperbaiki kembali ruang-ruang yang ada. "

     Haruskah seorang arsitek tahu bagaimana membangun sebuah bangunan?
Arsitek berkewajiban untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan dan keamanan penghuni bangunan, jadi arsitek harus memiliki pengetahuan konstruksi. Siapa pun yang merancang bangunan tanpa pengetahuan konstruksi adalah seniman atau perancang; mereka bukan arsitek Seorang arsitek bertanggung jawab atas konsepsi, eksekusi, dan penyelesaian sebuah bangunan.

    Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa bangunan di luar struktur rudimenter terlalu banyak karena hanya satu arsitek yang bisa mengambil atau memahami sepenuhnya semuanya sendiri. Terkadang ada kesenjangan dalam pengetahuan, dan dibutuhkan kolaborasi dengan arsitek dan insinyur lain untuk berhasil dan berhasil menjalankan sebuah desain sampai selesai.

Apakah arsitek dan insinyur sipil bekerja sama ?
    Dua perancang utama struktur adalah arsitek dan insinyur sipil; Kedua profesi tersebut merupakan bagian integral dari pelaksanaan dan konstruksi struktur.

   Tanggung jawab mereka sering tumpang tindih. Arsitek akan merancang ruang untuk memenuhi kebutuhan klien, dan akan menghasilkan cetak biru baik di dalam maupun di luar gedung. Karena arsitek bertanggung jawab bahwa bangunan itu aman bagi penghuninya, dia akan bekerja sama dengan seorang insinyur sipil untuk memastikan strukturnya memenuhi semua kode bangunan yang sesuai. Insinyur sipil juga dapat memberi saran dan / atau memilih bahan struktural yang sesuai, dan membantu menentukan sistem pemipaan pipa ledeng, listrik, pemanas, pendingin udara, dan ventilasi yang akan dibutuhkan.


Apa saran bagus bagi siswa arsitek ?
    Sekolah arsitektur sangat ketat, dan Anda tidak akan memiliki banyak kehidupan selama tahun-tahun sekolah Anda. Proyek memakan waktu lebih lama dari perkiraan Anda - bayangkan dua atau tiga kali lebih lama dari perkiraan Anda. Untuk beberapa tahun pertama, pekerjaan Anda semua akan dilakukan dengan tangan (pemodelan tangan dan gambar tangan). Menggambar segala sesuatu dan setiap hari, penting untuk menarik sebanyak mungkin. Ini akan membantu Anda dalam jangka panjang. Tahun-tahun berikutnya akan memperkenalkan pemodelan komputer. Pelajari bagaimana membuat dengan baik; Ini adalah salah satu hal yang paling berguna yang dapat Anda gunakan untuk resume dan portofolio Anda.

     Cobalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin pengalaman kerja sesegera mungkin. Tempat yang sangat baik untuk bekerja adalah di perusahaan konstruksi, karena Anda akan belajar banyak tentang bangunan yang sedang Anda rancang dan akan menjadi arsitek yang jauh lebih baik dengan pemahaman itu. Buat kesan terbaik yang Anda bisa selama magang Anda - Anda perlu mulai membangun hubungan / koneksi dengan orang sejak dini.

    Mengembangkan apresiasi terhadap seni dan pengaruh di luar ranah arsitektur. Cobalah dan pertahankan perspektif dari luar, ini akan membantu membuka pikiran Anda terhadap kemungkinan dan membentuk karir Anda.

Seperti apa rasanya menjadi seorang arsitek ?
     Menjadi arsitek bisa sangat menantang dan kompetitif. Universitas tidak mengajarkan segala hal yang perlu Anda ketahui, tapi ini mengembangkan bakat kreatif Anda dan membuka pikiran Anda terhadap gagasan baru.

    Anda akan belajar tentang bisnis dan aspek teknis arsitektur saat Anda mulai bekerja di lapangan. Anda juga akan mengembangkan kontak dan hubungan yang berguna dengan kontraktor, insinyur dan klien. Mempraktikkan arsitektur bagi sebagian besar arsitek bukan tentang perancangan, tapi tentang mengkoordinasikan proyek, memecahkan masalah desain, dan mengawasi rincian konstruksi. Semua tugas yang kadang-kadang biasa dan tidak membosankan ini akan menghasilkan sebuah desain yang sukses.

    Seiring waktu, Anda dapat memilih baik aspek desain, atau aspek teknis pekerjaan dan mungkin mengarah pada melakukan satu dari yang lain. Arah yang Anda ambil dalam karir Anda akan mendikte hari khas Anda nantinya.

    Desain arsitektur berfokus pada desain bangunan, penggunaan model 3d, sketsa, rendering dll. Desain teknis berfokus pada konstruksi, dokumentasi, dan rincian sebuah proyek. Ada juga sisi bisnis arsitektur, dan jika Anda merasa lebih menyukai sisi gambar itu, Anda bisa bercabang dan menjadi manajer proyek.

     Cobalah untuk mendapatkan kesempatan untuk meluangkan waktu di kantor arsitektur jika Anda bisa. Lihat apakah Anda menyukai apa yang orang-orang lakukan, mengobrol dengan mereka dan melihat apakah mereka adalah tipe orang dengan siapa Anda ingin bekerja dengan - ini benar-benar indikator terbaik apakah Anda akan senang menjadi arsitek atau tidak.

FILOSOFI RUMAH ADAT BUGIS



Rumah tempat tinggal suku bugis dibedakan berdasarkan status sosial dalam suku bugis dikenal dengan istilah saoraja, salassa, dan bala. Saoraja raja, yang terdiri dari dua kata yaitu :
sao berarti, gelar rumah raja dan
raja berarti : besar besar, atau raja, penguasa.
Jadi saoraja adalah rumah raja (penguasa). Yang ditempati oleh raja dan keturunannya atau kaum bangsawan. Sedangkan bala, adalah gelar rumah yang ditempati oleh orang maradeka atau orang biasa.

Bila dilihat dari segi kebangsawanannya, kedua jenis rumah (tempat tinggal) ini, tidak mempunyai perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada status penghuninya dan ukuran rumahnya.

Masalah rumah bugis serta yang bersangkut paut dengan rumah menurut kepercayaan / adat bugis. Dari ketaerangan La Ceppaga seorang Panrita Bola (70 – th) Alamat kampung Garessi Desa Lipukasi Kecamatan Tanete Rilau Kab. Barru. (dikutip dari Disst. Prof. Dr. A. Zainal Abidin Farid SH)

Bentuk Rumah Bugis

Bentuk rumah bugis : Persegi Empat

Untuk mendirikan rumah selalu menggunakan dua arah sebagai arah yaitu timur dan barat.
Kalau rumah menghadap ke timur, maka letaknya :
rumah terdiri dari :
4 tiang ke samping (dari kiri ke kanan) No. 1-2-3-4. dan
4 tiang ke belakang (dari depan ke belakang) No. I-II-III-IV

Tiang 1 = I adalah tiang tempat bersandarnya tangga yang mempunyai sifat laki-laki karena tangga adalah tempat lalu lintas mencari dan membawa rezeki dari sang pria (Kepala Rumah Tangga) untuk sang wanita (Ibu rumah tangga).

Tiang II+2 adalah tiang pusat yang mempunyai sifat perempuan untuk menyimpan dan mempergunakan rezeki/hasil yang diperoleh sang kepala rumah tangga. Tiang II – 2 bila hanya terbatas pada lantai, maka tiang III – 2 menggantikan fungsi posi’ bola atau tiang pusat (pusar rumah).

Menurut kepercayaan orang bugis, mendirikan rumah adalah bagaikan menciptakan hidup baru bagi pria dan wanita, justru karena rumah itu rumah diklassifikasikan sebagai manusia. Bagaikan kehidupan sebagai pria dan wanita yaitu :

Tiang I – 1 = tempat bersandarnya tangga diumpakan pria. Tiang II – 2 atau III – 2 tiang pusat (pusar rumah) diumpakan wanita.



Dalam mendirikan rumah yang membujur ke timur diumpamakan rumah itu sebagai manusia berbaring membujur ke timur maka urutan tiang-tiangnya adalah:

I – 1, 1 – 2, 1 – 3, 1 – 4.

II – 1, II – 2, II – 3, II – 4.

III – 1, III – 2, III – 3, III – 4.

a. Tiang I – 1 difiksikan sebagai kepala manusia dan inilah yang dijadikan sandaran tangga, karena fungsi kepala sebagai manusia itu diterapkan kepada rumah tersebut, menjadi fungsi tempat sandaran rumah. Tangga itulah tempat lalu lintas sang pria mencari dan membawa rezeki kepada wanita. (diumpamakan pula sebagai bagian kepala/mulut tempat masuknya makanan ke perut.

b. Tiang II – 1 adalah masih merupakan bagian dari kepala, sedangkan tiang II – 2 atau III – 2 pusat rumah (posi’ bola)

Pusat mansuia adalah bagian perut yang menyimpan makan untuk hidupnya. Sedang rumah diterapkan sebagai tempat menyimpan hasil/rezeki yang diperoleh oleh sang pria. Setelah kita mengetahui fungsi kedua tiang tersebut maka untuk mendirikan rumah maka kedua tiang inilah yang terlebih dahulu dipilih dan diteliti mutu dan sifat – sifatnya baiknya. Sifat baik dari tiang tersebut dilihat dari pusar (pangkal tangkai yang disebut pasu).

a. Kalau Tiang itu bulat maka empat tiang harus diperiksa yaitu
Pada tiang I – 1, I – 2, II – 1 dan II – 2 atau III – 2 tidak boleh ada pusar yang berhadapan antara tiang I – 1 dan tiang II – 2 dan tiang II – 1 dengan tiang II – 2 atau II – 2.
b. Kalau tiang tiu persegi empat dan tiang II – 2 tidak melewati lantai maka hanya tiga tiang yang harus diperiksa yaitu tiang I – 1, dan tiang I – 2, dan tiang II – 1, tidak boleh ada pusar yang berhadapan antar ketiga tiang tersebut.

ad. a dan ad. b semuanya diperiksa mulai pada arateng sampai pada padongkot.

Lantai yang terdapat diantara tiang I – 1, I – 2, II – 1 dan II – 2 adalah lantai yang suci, yaitu tempat pertama – tama harus ditempati kepala dan ibu rumah tangga bermalam semalam atau tiga malam bila rumah itu mula ditempati dan setelah itu barulah pindah ke tempat tidurnya yang telah ditentukan khusus baginya, yaitu ruang yang ke II dari depan (Lontang Tengngae). Sedang setiap orang yang meninggal dalam rumah tersebut harus ditempatkan pada lantai tersebut (lantai suci).

Setelah tiang untuk sandaran tangga dan tiang untuk pusat rumah telah ditentukan, barulah tiang-tiang dan perkakas rumah lainnya disiapkan.



Tata Cara Mendirikan Rumah

1. Melubang semua tiang-tiang dan melicinkannya (mappa’ dan makkattang).
Kalau tiang – tiang itu akan dilubangi dan dilicinkan maka yang pertama – tama yang harus dikerjakan ialah tiang sandaran tangga dan tiang pusar rumah setelah itu barulah alat – alat lainnya yang dikerjakan.

2. Mendirikan rumah. Dalam mendirikan rumah yang pertama-tama didirikan ialah tiang dasar atau pusar rumah barulah tiang tempat sandaran tangga yang menyusul tiang – tiang lainnya. Untuk mendirikan rumah menurut kepercayaan orang bugis, kedua tiang ini mempunyai fungsi yang ketat dan oleh karena itu di bawah tiang tersebut disimpan benda-benda sebagai berikut:

* a. Kaluku (kelapa)
* b. Golla (gula)
* c. Aju Cenning (kayu manis)
* d. Ade Cenning (adas manis)
* e. Buah Pala

ad a, b, dan c diharapkan agar kehidupan rumah tangga selalu rukun dan bahagia dan murah rezeki.
ad. d, diharapkan agar setiap anggota rumah tangga menaati aturan-aturan adat yang berlaku dalam rumah tangga itu sendiri.

Menempati Rumah Baru (Menre Bola Baru)

1. Kepala dan Ibu rumah tangga bila menempati rumah baru, harus membawa ayam yaitu :
Kepala rumah tangga membawa ayam betina. Ibu rumah tangga membawa ayam jantan. Setelah kepala dan ibu rumah tangga sampai diatas rumah kedua ayam tersebut dilepaskan dan tidak boleh dipotong, karena dianggap sebagai ayam penjaga rumah.

Menurut kepercayaan orang Bugis, membawa ayam berarti kehidupan dan penghidupannya selalu dalam keadaan baik dan tentram, karena dalam istilah Bugis ayam adalah “Manu” diterapkan dalam kehidupan adalah “manuanu mutoi atuwotuwongenna”. Artinya baik-baik. Didalam menempati rumah baru Kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga menempati tempat yang suci satu malam, lalu pindah ke tempat yang telah disediakan yaitu pada Lontang Tengga (ruang tengah).

2. Sebelum kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga menempati rumah baru tersebut, terlebih dahulu ditempatkan buah-buahan yaitu :

* 1. Kelapa bertandan (Kaluku mattunrung) tua dan mudah.
* 2. Pisang bertandang (Otti Mattunrung) yang tua.
* 3. Nangka yang tua
* 4. Nenas yang tua
* 5. Tebu
* 6. Dan lain-lain yang manis-manis.

ad. 2. Dengan menghubungkan buah-buahan lainnya, dicita-citakan agar kehidupan dan penghidupan rumah tangga itu baik-baik dan bahagia. Anasa- cita - cita terkabul. (rifomi-nasai).

3. Setelah upacara menempati rumah baru berlangsung, disediakanlah makanan untuk para tamu-tamu dan bahkan seisi rumah, terutama makanan yang menurut kepercayaan orang-orang bugis membawa pengaruh dalam kehidupan dan penghidupan dalam rumah tangga itu, antara lain :

a. Lana-lana (bedda’) kue ini adalah tepung mentah yang dicampur dengan kelapa dan gula merah. Lana-lana artinya “Masagena” (Longgar) = berkecukupan.

b. Jompo’-jompo’ dan Onde-onde. Kue ini dibuat dari tepung ketan, bentuknya bundar, isinya gula merah. Khusus onde-onde cara memasaknya ialah dengan memasukkannya kedalam air yang sedang mendidih dan sebelum masak onde-onde tersebut muncul terapung di atas air.
Menurut kepercayaan orang-orang Bugis, bahwa generasi di masa mendatang memperoleh kehidupan dan penghidupan yang baik dan bahagia.

Mompo – Timbul – Muncul. Upacara menempati rumah baru kadang-kadang berlangsung selama 3 sampai 7 hari berturut-turut, yang dikunjungi oleh segenap keluarga, bahkan segenap penduduk dalam kampung tersebut.

Macam-macam Rumah Bugis dahulu kala

1. Salassa’ atau Saoraja.
Salassa’ hanya ditempati oleh arung (raja) yang memimpin pemerintahan dan lazim juga disebut Saoraja. Saoraja dapat pula ditempati oleh Bangsawan dan/atau keturunan raja yang terdekat.

2. Salassa Baringeng (lantainya rata).
Salassa Baringeng (lantainya rata) yang ditempati oleh bangsawan yang disebut Anak Cera’ Ciceng.

3. Rumah tiga petak (lantainya bertingkat) memakai tamping tassoddo’.
Rumah tiga petak (lantai bertingkat) yang ditempati oleh mereka yang disebut ata’ simana (ata yang tidak dapat berpisah dengan raja/bangsawan dan mereka ini berhak mendapat warisan baik materil maupun inmateril, antara lain kedudukan.

4. Rumah dua petak.
Rumah dua petak (Tellukkaarateng) ditempati oleh rakyat biasa termasuk:
Ata mana (hamba yang dibeli atau yang dikalahkan dalam judi atau dalam perang).
Ata Passaromase (hamba karena mencari kehidupan, lalu menghambakan diri).

Macam-macam Timpa’ Laja’

* 1. Salassa’ tidak terbatas banyaknya tingkatan Timpa’ Laja’nya.
* 2. Salassa Baringeng, hanya tiga tingkatan timpa’ laja’nya.
* 3. Rumah tiga petak, dua tingkatan timpa’ laja’nya.
* 4. Rumah rakyat / hamba, tidak bertingkat timpa’laja’nya.



Rumah orang Bugis, baik Saoraja maupun bola terdiri atas tiga bagian, ketiga bagian tersebut adalah

* (1) Awa Bola,
* (2) Ale Bola, dan
* (3) Rakkeang.

- Awa’ Bola adalah kolong rumah yang terletak pada bagian bawah, antara lantai dan tanah.
Ale Bola adalah badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding rumah, terletak antara lantai dan loteng rumah.
- Rakkeang adalah bagian rumah yang paling atas, bagian ini terdiri dari loteng dan atap rumah.
Pada Saoraja terdapat Timpa Laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai sembilan tingkat, seperti dapat kita lihat pada Lontara Panguriseng Abbatirenna Anak Arungnge Ri Soppeng bahwa tingkat Rumah Adat Bugis ialah :

* I. Bocco Timpa’Laja 9 susun
* II. Bocco Timpa’Laja 7 susun
* III. Bocco Timpa’Laja 5 susun
* IV. Bocco Timpa’Laja 3 susun
* V. Bocco Timpa’Laja Polos,

(Mattulada, Prof,DR (1995)

Macam Tangga Rumah Bugis.

1. Safana, untuk salassa atau Saoraja dan salassa baringeng. Lazim terbuat bambu dengan lapisan/dasar bambu beranyam.
Safana juga dapat digunakan oleh rakyat biasa, yang membuat rumah tambahan (sarafo) bagi upacara perkawinan. Penganting dianggap sebagai raja sehari.

2. Tuka, yaitu tangga rumah Ata Simana’ yang mempnyai hubungan darah dengan arung dan atau bangsawan.
Disebut Tuka’ karena pemiliknya mendaki darahnya. Bahasa Bugis yang sinonim ialah tuppu, suatu istilah untuk bahagian ade’ (adat, hukum kebiasaan) yang mengatur tentang Hirarki peraturan ade’.

3. Addengeng, yang terdiri dari :

* a. Addengeng yang mempunyai ibu tangga tiga buah, khusus untuk Pabbicara, pembantu raja, Arung Lili’ dan pejabat-pejabat negeri di luar golongan bansawan al. Inang tau, Anang, Tomacowa-cowa.
* b. Addengeng yang mempunyai ibu tangga dua buah, khusus untuk rakyat biasa dan abadi.

Bentuk rumah Bugis yang lain adalah Bola Sada’ yang berdampingan dua dengan sejajar bahagian depan, bentuk itu disebut Bola Sada’ karena sama besar dan sejajar, rumah ini dipereuntukkan bagi kalangan bangsawan, baik yang mempunyai jabatan negeri maupun tidak. Dari bentuk macam-macam rumah Bugis itu, beserta timpa’laja serta tangganya membuktikan bahwa dalam masyarakat hukum orang Bugis dahulu terdapat standen sebagai berikut :


a. Arung (Raja) yang memerintah, yang lazim dikategorikan berdarah murni yang bergelar Datu, termasuk Ana’Mattola (Putra Mahkota).
b. Anak arung (Bangsawan) yang ada pertalian darah dengan raja yang diklasifikasikan lagi dalam beberapa bagian.
c. Mardeka (Jemma Lappa’) termasuk tau Tongeng Karaja, yang masih mempunyai darah bangsawan, tetapi tidak dapat disebut Anakarung lagi, yaitu rakyat biasa yang jumlahnya terbanyak.
d. Ata (Hamba) abdi yang terdiri dari :

* 1. Ata Simana’ yaitu hamba yang tidak dapat dipisahkan dengan Raja atau bangsawan, yang dapat saling waris-mewarisi dengan Puangnya (tuannya) baik materil maupun inmateril.
* 2. Ata Mana’ yaitu hamba yang dibeli (lazim sanaknya sendiri yang menjualnya untuk merampas barang-barang pusaka bersama), atau orang yang dipidana mati tetapi diberi pengampunan, dapat hidup sebagai abdi raja/Bangsawan, atau ditawan dalam peperangan.
* 3. Ata Passaromase, yaitu hamba yang mengabdikan diri untuk dapat hidup, termasuk orang-orang yang kalah main judi atau berhutang, tetapi tak dapat membayar utangnya (pandeling).

Dalam semua bentuk dan macam rumah Bugis itu dikenal istilah Bola Gennea’ (rumah Sempurna). Terutama dalam hubungan filsafat dan pandangan hidup orang-orang Bugis yang disebut dengan Sulafa’ Eppa (persegi empat). Karena bentuk rumah harus persegi empat yang memiliki empat unsur kesempurnaan. Demikianpun bentuk kampung dahulu kala juga persegi empat. Orang-orang Bugis baru dikatakan sempurna dan lengkap kalau memiliki Sulafa’Eppa (laki-laki bersegi empat). Pribahasa dan Petuah Petitih: ”Iyyafa muabbaine mubolaifi Sulafa’ Eppa’e” berarti barulah engkau kawin kalau memiliki empat segi.
Seorang yang hendak bangun dari tidurnya, menyiapkan diri sebelum bangun, yang disebut mappatefu (melengkapi diri) supaya selamat menghadapi apapun juga. Dunia dan jagat semesta dipandang persegi empat. Rumah barulah dianggap lengkap kalau tersedia tempat untuk :

* a. Tamu, Ialah ruangan bagian depan rumah.
* b. Kepala dan ibu rumah tangga, yaitu bagian tengah rumah, dimana terdapat juga posi’ bola lambang wanita dan kemakmuran.
* c. Anak-anak dan gadis-gadis dalam rumah tangga itu, bagian belakang.
* d. Para abdi (kalau ada), bahagian belakang juga untuk wanita-wanita. Untuk laki-laki lazim ditempatkan di rumah kecil di samping atau di belakang induk rumah.

Jadi rumah bugis dibagi atas tiga bahagian yaitu :

* 1. Lontang risaliweng (bahagian depan)
* 2. Lontang ri tengnga (bahagian tengah) yang di dinding dari bahagian depan.
* 3. Lontang ri laleng (bahagian dalam atau belakang)





Dalam memeliharah rumah dan rumah tangga, kampung dan negeri dipakai pedoman elompugi’ (nyanyian Bugis) yang mengandung makna yang mendalam sekali sebagai berikut:


Tapalla’-palla’ ri passirinna bolata tataneng ade’.
Tafallimpo bunga fute.
Tuwo ade’ta mallimpo bunga futeta.

Arti lett. :
Mari kita memagari negara atau rumah kita dengan pagar adat.
Kita semarakkan keharuman seluruh isi negeri atau isi rumah kita.
Hidup adat kita, hidup mengharum mewangi isi negeri atau rumah kita.

Sebagaimana negeri, kampung dan rumah, harus dipagari secara persegi empat, maka seseorang juga harus memagari dirinya dengan sulafa eppa yakni :
Ade’, Rafang, Wari’, dan Tuppu (Adat, Yurisprudensi, Protokol, dan aturan hirarki).

Pappaseng (amanah) orang-orang Bugis dahulu terkenal, bahwa barang siapa yang pernah bernaung di pinggir rumah orang lain maka tidak diperbolehkan lagi berhati jahat terhadapnya : “Rekkua siya furami riyaccinaungi fassiringpolana seuwae tau, tempeddingngi rikira-kira rimaja’e”

Golongan bangsawan yang disebutkan di atas, dalam pergaulan sehari-hari oleh masyarakat disebut dengan sapaan, Datue, Bau, Petta, dan Puang. Namun kata puang ini juga diberikan sapaan kepada orang-orang yang dituakan atau dihormati serta sesama anak bangsawan yang mutlak menyapa kepada yang tua dengan kata Puang. Dan kata Daeng digunakan bagi yang berstatus Tomadeceng, dalam menyapa sesamanya.

Inilah salah satu aspek budaya bagi masyarakat Bugis pada umumnya dan khususnya di Baringeng ini yang kemudian menjelma dalam system hubungan social dalam bentuk stratifikasi. Ia tumbuh dan berkembang hingga saat ini sebagai interaksi simbolik alam kehidupan masyarakat, sebagaimana masyarakat lainnya di berbagai golongan etnis di alam raya ini khususnya suku Bugis.

Seperti yang telah dipaparkan di muka bahwa penduduk yang mendiami Baringeng ini adalah 100% orang Bugis, maka dalam pergaulan sehari-hari mereka mernggunakan Bahasa Bugis. Demikian pula aspek kehidupan social lainnya dalam pergaulan sehari-hari di kalangan masyarakat Baringeng, pada umumnya warga yang berusia muda sangat menghormati orang-orang tua. Seperti misalnya dalam pergaulan, bila seorang anak yang sedang bercakap dengan orang yang seusia ayah atau ibunya, maka si anak tersebut akan selalu mengiringi ucapannya-ucapannya dengan kalimat atau ungkapan kata sesuai dengan status sosialnya, atau kata Puang, yaitu suatu ungkapan penghormatan yang biasa ditujukan kepaa golongan bangsawan. Demikian pula dalam penggunaan kata ganti yaitu :

* - Ada Cenga, yaitu ungkapan kata yang ditujukan kepada raja atau anak Bangsawan, atau orang yang status social lebih tinggi dari kita, seperti kata “Anutta Puang, Alena Petta Puang”.
* - Ada Makkarateng, artinya kata-kata yang diperuntukkan kepada yang sama derajatnya contoh kata “Idi’, anutta pada idi” kata pada idi ini tidak boleh kita katakan apabila kita berbincang dengan seorang raja atau bangsawan.
* - Ada Cuku’,artinya ucapan - ucapan yang diungkapkan raja, anak bangsawan kepada yang dibawahnya, seperti “iko, anummu”.

Penempatan ketiga kata ganti inilah biasa menjadi ukuran bagi masyarakat Bugis dalam arti “Misseng Bettuang” dan menjadi pengukuran dan penilaian orang/masyarakat.
Kehidupan social masyarakat yang masih nampak hingga kini di Baringeng ini yang masih nyata dan menonjol, ialah semangat kerja sama secara gorong royong, sebagai sosialisasi kebersamaan dalam bentuk kerja secara gotongroyong, seperti ketika terjadi atau adanya warga yang ditimpa musibah kematian, perkawinan, khitanan, mendirikan rumah baru, kegiatan-kegiataan keagamaan, serta menanam padi, dan sebagainya. Sifat gotong royong ini disebut ”Sibali reso atau Sibali Peri” yang bermakna sama-sama bekerja dan sama-sama menanggung resiko untuk kemaslahatan bersama.

Dalam kehidupan budaya, nampaknya masyarakat yang mendiami Baringeng ini tidak mempunyai perbedaan dengan kehidupan budaya pada kerajaan kecil lainnya yang merupakan bekas wilayah Kerajaan Soppeng pada khususnya dan pada daerah Bugis pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti dan dipahami bahwa Baringeng ini adalah bekas daerah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Petta Baringeng. Namun yang menjadi kajian dalam penulisan dan penelitian ini adalah H. Andi Mappa Petta Baringeng.

Sebagaimana Baringeng ini mengenal berbagai macam seni budaya tradisional, seperti: seni tari, seni sastra dn seni musik. Seni tari yang sering dilakukan ialah Tari Padduppa artinya tarian yang dilakukan pada saat penjemputan tamu dikala ada pengantin atau perayaan atau menjemput tamu, yang datang pada acara itu. Seni sastra yang merupakan bagian tak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan komunikasi antara sesama baik dalam berkomunikasi menyampaikan maksud maupun dalam berkomunikasi dalam pembicaraan nasihat atau petua-petua leluhur, hal ini dimaksudkan adalah kata-kata “Galigo” kata sindiran yang bermakna.

Biasanya bentuk-bentuk “Galigo” dari Bahasa Lontara Bugis ini didengar pada saat ada peminanan / pelamaran, pesta perkawinan serta penerimaan tamu. Bukan hanya itu tapi semua dapat dilakukan diucapkan dalam kehidupan berkomunikasi dengan sesamanya. Salah satu ucapan kata Galigo dikala kita menerima tamu ialah :

“Topole enre’ni’ mai ri bola, majeppu pole-inittu bola malappa, punnae bola massagena. talesso tatudang tejjali tettappere banna mase-mase”,

Makna yang terkandung di dalam ungkapan kata Galigo ini ialah Tuan rumah mengundang orang yang datang (tamunya) dan menyampaikan kerelaannya menerima tamunya, kemudian merendahkan diri tidak punya apa-apa, namun yang ada adalah keakraban antara kita.

HUNIAN VERTIKAL, Untuk siapa ?

sumber gambar : mumbailive.com secara fundamental, pembangunan hunian vertikal pada kawasan perkotaan adalah suatu bentuk penataan ruan...